Sanggul Bugis Simpolong Tattong

Rp.100000 Add to cart

Simpolong artinya ‘sanggul’, sedangkan tattong artinya ‘berdiri’. Sanggul ini berbentuk tanduk. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh animisme, meskipun suku Bugis penganut agama Islam yang taat. Kerbau atau tanduk kerbau dianggap binatang yang mempunyai kekuatan gaib dan di dalam buku Kielich yang berjudul Volken Stammen dikatakan bahwa wanita Bugis mendapat kedudukan yang tinggi dalam masyarakatnya. Oleh [...]

Informasi Produk

Simpolong artinya ‘sanggul’, sedangkan tattong artinya ‘berdiri’. Sanggul ini berbentuk tanduk. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh animisme, meskipun suku Bugis penganut agama Islam yang taat. Kerbau atau tanduk kerbau dianggap binatang yang mempunyai kekuatan gaib dan di dalam buku Kielich yang berjudul Volken Stammen dikatakan bahwa wanita Bugis mendapat kedudukan yang tinggi dalam masyarakatnya. Oleh karena itu, secara simbolis sanggul yang berbentuk tanduk ini dapat diartikan sebagai penghargaan kepada pengantin. Simpolong tattong adalah sanggul pengantin suku Bugis.


Cara Membentuk Sanggul
1.    Mula-mula rambut yang berada pada batas dahi tengah diambil kira-kira dua sampai tiga jari untuk pengikat sanggul atau lungsen.
2.    Rambut bagian depan yang lain dibentuk hingga gembung dan ketat dengan cara memberinya minyak dan remasan daun waru (sekarang dengan pomade atau hairspray).
3.    Semua rambut ditarik ke belakang agak ke atas atau kurang lebih lima jari dari batas rambut tengkuk. Kemudian rambut itu dilipat dan dililit agar sanggul dapat berdiri. Ujung rambut yang berlebih dijadikan beuete di sebelah kanan sebagai hiasan. Ujung sanggul diusahakan agar terlihat dari depan dan rambut yang disisakan pertama tadi diikatkan pada ujung sanggul supaya dapat betul-betul berdiri. Selanjutnya, dipasang hiasan sanggul.

Hiasan Sanggul
1.    Bunga sibali atau pattodo sibali, yaitu sejenis bunga yang terbuat dari emas, diletakkan di kiri kanan sanggul.
2.    Bunga mawar, aster, melati, dan sebagainya, yang terdiri dari lima warna dirangkai lalu diletakkan pada kiri kanan sanggul sebelah bawah. Kelima warna itu, yaitu merah, kuning, ungu, merah muda, dan putih, melambangkan lima rukun Islam.
3.    Pada sanggul ditusukkan pinang goyang sebanyak menurut derajat kebangsawanan si pengantin, tetapi paling banyak sembilan buah bagi bangsawan menengah, sanggulnya ditutup dengan simpolong, yaitu hiasan sanggul yang bentuknya seperti simpolong tattong. Bagi mereka yang berdarah putih, tidak dipakaikan simpolong, tetapi tattong atau tanduk.
4.    Di atas ubun-ubun pengantin dipasang bando atau pettina dan di depan pettinra itu disuntingkan satu persatu bunga melati. Menurut kepercayaan apabila melati itu mekar di atas kepala, pertanda baik bagi pengantin.
5.    Pada dahi pengantin diberi dadasa atau paes dalam bahasa Jawa. Dadasa pada pengantin Bugis bentuknya lancip, sedangkan pada pengantin Ujung Pandang bentuknya bulat.